SenoGumira Ajidarma adalah sastrawan,fotografer dan kritikus film Indonesia. Karya-karya sastranya meliputi kumpulan cerpen,drama,novel dan komik. Ia lahir di Boston tanggal 19 Juni 2002. Cerpen-cerpennya muncul di harian Kompas,Media Indonesia,Republika,Koran Tempo,majalah Matra, Djakarta!,Horison, dan Latitute.
Penelitianini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan intertekstualitas dalam novel Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma melalui tinjauan ekspansi, konversi, modifikasi dan ekserp. ekspansi pada delapan dari sebelas gagasan cerita Nugroho Suksmanto, tokoh cerpen Perburuan Wirog karya Nugroho Suksmanto, peristiwa G30S/PKI dalam
Cerpen"Pada Suatu Hari Minggu" karya Seno Gumira Ajidarma memiliki nilai moral yang dapat kita petik, di antaranya: adanya suatu kedisiplinan kita untuk menghargai waktu. Dalam cerpen ini, pengarang memberi nilai lebih pada hari Minggu.
KRITIKADJIDARMA DALAM EMPAT CERPEN: TENTANG GENDER DAN KELIYANAN. Seno Gumira Ajidarma is well-known as a multitalented popular figure in Indonesia. A. B. (2015). Wacana Kekuasaan dalam Karya Seno Gumira Ajidarma, Penembak Misterius dan Saksi Mata. dalam D. Suryaman, Maman (Ed.), Bahasa, Sastra, dan Kekuasaan. Yogyakarta: Interlude
SenoGumira Ajidarma – Cerpen Koran Minggu Seno Gumira Ajidarma juga merupakan seorang wartawan yang sering menulis cerita pendek, puisi, dan esai. Beberapa buku karyanya adalah Atas Nama Malam, Wisanggeni-Sang Buronan, Sepotong Senja Untuk Pacarku, Biola Tak Berdawai, Kitab Omong Kosong, Dilarang Menyanyi Di kamar Mandi, dan Negeri
Kitabisa lihat cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Paman Gober, yang berisi sindiran kepada Rezim Orde Baru saat itu. Dalam cerpen Kaki yang Ajaib Karya Hasan al-Banna, penulis memusatkan perhatian pada fenomena kekinian. Dimana yang ia sorot adalah cara berpakaian kaum wanita yang kerap menunjukan aurat di depan umum.
Cerpen“Matinya Seorang Penari Telanjang” Karya Seno Gumira Ajidarma (Ahmad Zamzuri) ISSN 0854-3283 (Print), ISSN 2580-0353 (Online) Halaman 1 — 16 Second, collecting data through reading the story repeatedly to understand the story. After that, data was collected by referring to words, sentences, and paragraphs, relating to Žižekian’s
OrdilJadi Gancan, karya Gde Aryantha Soethama 13. Rongga karya Noviana Kusumawardhani 14. Dodolitdodolitdodolibret karya Seno Gumira Ajidarma 15. Lebih Kuat Dari Mati, karya Mardi Luhung 16. Ikan Terbang Kufah karya Triyanto Triwikromo 17. Sirajatunda, karya Nukila Amal 18. Terakhir cerpen karya Budi Darma berjudul Pohon Jejawi.
Cerpenini tidak mencerminkan tokoh utama saja, tetapi untuk orang yang mempunyai sifat dan perilaku yang sama seperti yang di perankannya. YUSUF HAMDANI, 132050098 (2017) ANALISIS WACANA KRITIS PADA CERPEN “ORANG YANG SELALU CUCI TANGAN” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA. Skripsi(S1) thesis, PERPUSTAKAAN. Text
KaryaSeno Gumira Ajidarma “Sebenarnya kecantikan itu apa?” Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang terlintas di kepala kebanyakan manusia. Kecantikan seperti apa yang didambakan setiap orang pun menjadi pertanyaan-pertanyaan yang hanya menetap di batin. salah satu karya yang lahir dari lagu ini adalah buku kumpulan cerpen
1Uhm. Oleh SENO GUMIRA AJIDARMA, 1 Maret 2020 Malam berhujan di hutan baik untuknya. Ini membuat manusia kurang waspada karena titik-titik hujan pada setiap daun menimbulkan suara di mana-mana di dalam hutan sehingga pendengaran mereka teralihkan. Ilustrasi cerpen Minggu 1/3/2020 karya Ledek Sukadi untuk cerpen Seno Gumira. Malam berhujan di hutan baik untuknya. Ini membuat manusia kurang waspada karena titik-titik hujan pada setiap daun menimbulkan suara di mana-mana di dalam hutan sehingga pendengaran mereka teralihkan. Apalagi jika manusia ini alih-alih memburu dirinya, malah bercakap-cakap sendiri, mungkin untuk menghilangkan ketakutan dalam kegelapan tanpa rembulan. Ia merunduk di balik semak, antara bersembunyi tetapi juga siap menerkam. Iring- iringan manusia berjalan berurutan di jalan setapak di bawahnya. Di sisi lain jalan terdapatlah jurang berdinding curam yang menggemakan arus sungai di dasarnya. Suara arus tentu lebih mengalihkan perhatian. Gemanya bahkan membuat mereka harus berbicara cukup keras. ”Hujan begini Simbah tidak ke mana-mana kan?” ”Oooh kurasa hujan seperti ini tidak banyak artinya untuk Simbah, justru ini saatnya keluar untuk mencari mangsa yang menggigil kedinginan.” ”Berarti mangsanya itu kamu!” ”Huss!” ”Ha-ha-ha-ha!” ”Ha-ha-ha-ha!” ”Ha-ha-ha-ha!” Baginya ini hanya suara-suara karena ia memang tidak mengerti bahasa manusia. Namun, ia memang bisa memangsa salah seorang di antaranya. Ada sebuah celah di antara dua pohon besar di ujung jalan setapak ini, yang membuat mereka harus berhenti sejenak ketika satu per satu melewatinya. Setelah melangkahi akar-akar yang besar, setiap orang akan menghilang di baliknya. Akar- akar pohon sebesar itu memang tidak bisa dilangkahi, akar-akar itu harus dipanjati, seperti memanjat pagar tinggi lantas menghilang di baliknya dan tidak terlalu mudah untuk segera kembali lagi. Itulah saat terbaik untuk menerkam manusia yang paling belakang. Membuatnya terjatuh dan menggigit lehernya sampai lemas dan mati. Itu tidak dilakukannya. Untuk sekadar membunuh ia cukup muncul dan menggeram. Melihatnya menyeringai, manusia yang terkejut dan melangkah mundur akan terperosok dan melayang jatuh ke dasar jurang tanpa jeritan. Ini juga tidak dilakukannya. Ia hanya merunduk dan mengintai. Ia tidak berminat membunuh manusia, bahkan tidak satu makhluk pun, selain yang dibutuhkannya untuk menyambung kehidupan—dan saat ini ia tidak kelaparan karena sudah memangsa seekor kancil tadi siang. Kancil bodoh itu seperti lupa bau kencing pasangannya, bapak anaknya, yang pada setiap sudut menandai wilayah mereka. Adalah wajar bagi mereka untuk memangsa makhluk apa pun yang memasuki wilayahnya. Dengan hukum itulah, nasib sang kancil sudah ditentukan. Sebetulnya sudah lama bagaikan tiada makhluk apa pun akan memasuki wilayah mereka itu. Tidak babi rusa, tidak kijang, tidak pula burung-burung dan serangga. Pasangannya mesti mencari mangsa ke luar wilayah, begitu jauhnya sampai keluar dari hutan. ”Kambing kita lama-lama bisa habis dimakan Simbah,” kata salah seorang. Namun bukanlah ketakutan atas habisnya kambing, yang membuat orang-orang kampung masuk hutan mencarinya. Pada suatu hari pasangannya muncul dari dalam hutan di tepi ladang. Langsung didekatinya sesuatu di atas tikar, sesuatu di balik kain yang bergerak-gerak. Bagi makhluk besar yang lapar, makhluk kecil bisa terlihat sebagai santapan. Lantas terlihat olehnya bayi manusia itu. Menatapnya sambil tertawa-tawa. Hanya makhluk manusia yang bisa tertawa di dunia ini, dan itu membuatnya tertegun. Saat itulah dari tengah ladang mendadak terdengar suara bernada tinggi yang disebut manusia sebagai jeritan. Malam tanpa rembulan semakin kelam. Hujan tidak menderas tetapi tidak juga mereda. Ia memperhatikan orang-orang itu menjauh. Mereka semua, dua belas orang bercaping maupun berpayung daun pisang membawa tombak dan parang serba tajam. Keriuhan mereka tidak akan menghasilkan tangkapan apa pun karena tiada seorang jua dari mereka adalah pemburu. Ia tahu bukan orang-orang itu yang menjadi penyebab kematian pasangannya, melainkan pemburu yang masuk sendirian ke dalam hutan tanpa suara meski tubuhnya penuh senjata. Tombak di tangan, parang dalam sarung di punggung, pisau belati di pinggang kanan, dan umban di pinggang kiri. Pemburu itu bahkan tidak bergumam. Membaca jejak di tanah, berjalan melawan arah angin, makan seperlunya dan tidak memasak di dalam hutan. Jika mulutnya bergerak- gerak barangkali mendesiskan rapalan. Tentu pemburu itu telah melacak jejak semalaman ketika dengan tiada terduga, tetapi penuh rencana, muncul di depan gua batu tempat ia sedang menyusui anaknya. Ia segera menggeram dan berdiri melindungi anak jantannya. Pasangannya bahkan melompat dan menerjang ke arah pemburu itu, tetapi makhluk yang disebut manusia ternyata tidak hanya bisa tertawa, tetapi pandai memainkan tipu daya. Sangatlah mudah bagi pasangannya untuk menyusul pemburu itu ke tepi hutan, menyeberangi ladang, dan siap menerkamnya di tengah lapangan, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya selain menggeram-geram ketika ternyata muncul puluhan manusia mengepung sembari mengacung-acungkan tombak bambu ke arahnya. Pasangannya mencari celah, berputar-putar dalam kepungan yang semakin merapat, sampai hampir semua tombak itu menembus kulit lorengnya. ”Akhirnya!” Orang-orang berteriak lega atas nama keselamatan anak manusia, kambing, sapi, ataupun kerbau mereka, meski dalam kenyataannya kambing, sapi, dan kerbau di kampung itu lebih sering diambil, dibantai, dan dikuliti di kandangnya sendiri oleh para bapa maling berkemahiran tinggi. Kawanan bapa maling datang lewat tengah malam mengendarai mobil boks. Dengan mantra dalam campuran bahasa asing dan bahasa daerah yang tidak pernah digunakan lagi, mereka menyirep seisi rumah yang di kampung itu jaraknya saling berjauhan. Pagi harinya hanya tinggal isi perut ternak berserakan dengan bau anyir darah di mana-mana. Kambing yang diterkam penghuni rimba jumlahnya tidak seberapa dibanding pencurian ternak dengan mobil boks. Itu pun bisa terjadi karena kelalaian pemiliknya, jika tidak pintu kandang terbuka, sering diikat begitu saja di luar kandang, sehingga menjadi sasaran empuk makhluk pemangsa dari masa ke masa. Bahwa bayi manusia seperti akan menjadi mangsa itulah yang mengubah segalanya. ”Akhirnya terbunuh Si Embah ini!” ”Selesai sudah!” ”Belum …” Pemburu itu tidak berteriak, tetapi pengaruhnya lebih besar dari segala teriakan. ”Belum? Kita baru saja merajamnya begitu rupa sampai kulitnya tidak bisa kita jual.” ”Masih ada betinanya….” Semuanya ternganga. ”…dan masih ada anaknya.” Saat pasangannya itu tewas oleh puluhan bambu tajam, ia yang ternyata mengikuti dari belakang dapat menyaksikan dari kejauhan. Saat itu tidak ada satu pun di antara para manusia melihat ke arahnya. Tanpa bisa memberi bantuan, ia hanya berjalan mondar- mandir dengan gelisah. Ia masih berada di sana ketika menyaksikan betapa orang-orang kampung itu tetap menguliti pasangannya, dan membawanya pergi dengan mempertahankan agar kepalanya tetap tersambung pada kulit loreng tubuhnya. Katanya bisa menjadi hiasan dinding kantor kelurahan. ”Kita harus membunuh juga betinanya, ia pasti juga akan mencari mangsa di kampung kita!” ”Anaknya juga harus kita bunuh, kalau tidak tentu setelah dewasa membalas dendam!” Ia memang tidak memahami bahasa manusia, baginya itu hanya berarti suara-suara, tetapi nalurinya dapat merasakan ancaman. Kini dalam kelam berhujan, ia mengawasi orang-orang yang memburu dirinya itu dari suatu jarak tertentu. Ia telah memindahkan anaknya ke goa lain yang sama hangatnya pada malam hari, dan karena itu ia tidak perlu khawatir mereka akan menemukannya. Pemburu itu mungkin akan bisa, tetapi tidak malam ini, karena belum tahu bahwa goa yang ditemukannya sudah kosong. ”Betinanya baru saja beranak, dan anaknya masih terhuyung-huyung kalau berjalan….” Pemburu itu memberi petunjuk ke mana orang-orang kampung bisa menyergap makhluk pemangsa yang terandaikan bisa membalas dendam. ”Anakku sakit panas,” katanya memberi alasan. Dalam hatinya ia sudah bosan bekerja tanpa bayaran. Demikianlah rombongan orang-orang bertombak yang bercaping ataupun berpayung daun pisang muncul di ujung jalan setapak di tepi jurang ketika ia berada dalam perjalanan memburu pemburu. Ia merunduk di balik semak, membiarkan mereka lewat, dan membuntutinya sejenak untuk memastikan arahnya. Ia tidak membunuh seorang pun. Setibanya di kampung yang gelap dan sunyi di malam berhujan tanpa rembulan, sembari melangkah tanpa suara, terendus olehnya aroma pemburu yang tengik itu dibawa angin dari sebuah rumah terpencil. Sebuah rumah yang sengaja berjarak dan menjauhkan diri karena penghuninya yang selalu berikat kepala kusam merasa berbeda dari para petani bercaping. ”Orang-orang dungu,” pikirnya selalu. Terdengar tangis bayi yang tak kunjung berhenti. ”Panasnya belum juga turun, coba ambilkan air yang lebih dingin dari sumur, handuk ini seperti baru tercelup air rebusan,” ujar perempuan yang sedang menjaram anaknya itu. Jawabannya adalah desahan malas, disusul derik balai-balai bambu. Kemudian pintu rumah kayu itu terbuka. Dari dalam membersit cahaya lentera. Seorang lelaki berikat kepala dengan bau tubuh yang tengik berlari kecil ke arah sumur sambil membawa baskom. Hujan belum berhenti ketika ia meluncurkan ember pada tali timba ke bawah dan mengereknya kembali ke atas secepat-cepatnya. Dalam kesibukan seperti itu pun, kepekaannya sebagai pemburu tidak pernah berkurang. Ia melepaskan tali timba dan membalikkan badan secepatnya. Namun, kali ini sudah terlambat. Seno Gumira Ajidarma, lahir di Boston, Amerika Serikat, 19 Juni 1958. Kini menjabat sebagai Rektor Institut Kesenian Jakarta IKJ. Seno lebih dikenal setelah menulis trilogi karyanya tentang Timor Timur, yakni Saksi Mata 1994, kumpulan cerpen, Jazz, Parfum, dan Insiden 1996, novel, serta Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara 1997, kumpulan esai. Ledek Sukadi, lahir di Wonogiri, Jawa Tengah, 19 Oktober 1969. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta. Ledek antara lain menerima penghargaan dari Pemerintah Kyoto, Jepang 1992, dan memenangi gelar lukis akbar di Candi Borobudur 1994
Jakarta - Seno Gumira Ajidarma adalah seorang penulis yang memiliki ciri khas tersendiri karena gaya penulisan yang digunakan Seno Gumira Ajidarma ini terbilang unik, siapapun yang membaca karya beliau entah itu novel ataupun cerpen pasti setuju dengan ini. Semua karya beliau selalu meninggalkan pesan yang mendalam kepada pembaca sehingga siapapun yang membaca tulisan beliau akan langsung mengenal bahwa karya tersebut ditulis olehnya. Karya yang dibuat oleh Seno Gumira Ajidarma tidak terlepas dari kritik terhadap kekuasaan, politik, dan bahkan kritik sosial masyarakat yang terjadi. Tema-tema yang diangkat oleh Seno Gumira Ajidarma juga membahas realitas sosial yang terjadi di masyarakat, seperti korupsi, perbedaan kelas sosial, dan bahkan ketamakan manusia. Seno Gumira Ajidarma berhasil untuk mengembangkan suatu permasalahan menjadi suatu bacaan yang kompleks dan berkualitas sehingga membuat pembaca secara tidak sadar untuk berpikir kritis dan menilainya. Setiap cerpen yang ia buat juga digambarkan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini yang menjadi keunggulan karya beliau, walaupun digambarkan dengan sederhana, namun seperti mengajak para pembaca untuk masuk dalam dunia ceritanya lewat rangkaian konflik yang disusun. Sebuah karya sastra lahir dari pengamatan penulis, dengan sederhananya karya sastra tersebut merupakan bentuk keterlibatan pengarang terhadap kehidupan masyarakatnya. Pendekatan sosiologi sastra beranggapan bahwa sastra tersebut mencerminkan dan mengekspresikan kehidupan, salah satunya adalah realitas sosial dan kritik yang terjadi pada cerpen “Menunggu Kematian Paman Gober” karya Seno Gumira bercerita melalui medium visual, menjadi alasan Lydia Isnanto menekuni dunia film. Sejak empat tahun lalu, Lydia pindah ke AS dan menetap di Austin, Texas. Ia telah memproduksi dua film pendek bertema Kesehatan mental yang telah meraih b...Ilustrasi membaca, buku. Photo Copyright by FreepikCerpen “Menunggu Kematian Paman Gober” berkisahkan mengenai suasana kehidupan di Kota Bebek yang dipimpin oleh Paman Gober. Paman Gober ini digambarkan sebagai sosok yang kaya raya dan berkuasa, tetapi sangat pelit dan kejam. Tetapi, herannya ia menjadi tokoh yang sangat dicintai. Kematian Paman Gober ini tampaknya telah ditunggu-tunggu oleh warga Kota Bebek. Paman Gober dinilai telah terlalu lama berkuasa, dan walaupun sudah sangat tua, ia tidak ada tanda-tanda untuk mengundurkan diri. Paman Gober digambarkan sebagai orang tidak mengenal belas kasihan. Ia selalu mengancam siapapun yang berani mengkritiknya, maka dari itu hampir tidak ada yang berani untuk mengkritik dirinya. Banyak cara yang telah dilakukan, namun entah mengapa ia terpilih lagi untuk menjadi seorang pemimpin seolah-olah seperti tidak ada calon yang lain lagi. Akhirnya, warga Kota Bebek menyerah dan yang dilakukannya setiap hari adalah menunggu kematian Paman Gober, karena mereka berpikir hanya kematianlah yang mampu menghentikan Paman Gober, setiap hari mereka menunggu dan berharap saat itu akan Cerpen Menunggu Kematian Paman Gober, Representasi Orde BaruIlustrasi membaca sinopsis, buku. Photo by Nathan Aguirre on UnsplashKarya sastra merupakan realitas dan keterlibatan pengarang terhadap kehidupan masyarakatnya. Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen ini pada tahun 1994, yaitu pada zaman Orde Baru. Pada saat itu, Soeharto menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Soeharto juga menjabat selama 32 tahun sebagai Presiden, dan itu bukan waktu yang sebentar. Persoalan utama yang dibahas dalam cerpen adalah mengenai kepemimpinan yang tidak berganti dengan alasan bahwa ia pun tidak menolak jika diberi kehormatan. Namun, hal tersebut menimbulkan pro dan kontra oleh masyarakat. Sebagian masyarakat banyak yang memandang sinis dan tidak suka, oleh karena itu Seno Gumira Ajidarma menulis cerpen ini, cerpen yang memusatkan pada pandangan masyarakat pada zaman Orde Baru. Realitas masyarakat pada saat itu tidak berani untuk memprotes atau mengutarakan pendapat karena adanya ancaman dan intimidasi dari pemerintah, bahwa siapa saja yang pada saat itu berani untuk mengkritik dan mempertanyakan kebijakan pemerintah, akan ada akibat yang ia dapat. Hal itu tertulis jelas pada percakapan dalam cerita pendek berikut ini. “Kamu bebek tidak tahu diri, sudah dibantu masih meleter pula.” “Apakah saya tidak punya hak bicara?” “Punya, tapi asal jangan meleter, nanti kamu kusembelih.” Soeharto Metafora Paman Gober, Benarkah?Soeharto, lahir 8 Juni 1921, sosok presiden yang mendapat julukan bapak pembangunan itu tak lepas dari kontroversi. Dimasa kejayaannya Soeharto begitu disegani di ASEAN IstimewaDalam cerpen ini, dijelaskan bahwa ancaman digunakan oleh pemerintah untuk membungkam masyarakat dalam mengkritisi kebijakan pada masa pemerintahan Orde Baru. Masyarakat juga memilih diam untuk menyelamatkan dirinya sendiri, sambil menunggu perubahan yang akan terjadi dalam lima tahun sekali. Tetapi hal itu tentunya tidak pernah terjadi, karena seperti yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya “Menunggu Kematian Paman Gober”, pemilihan umum pemilu ini sudah direncanakan dan bersifat pura-pura tidak bersifat demokratis, oleh karena itu masyarakat yang sudah sangat jenuh dengan kondisi pemerintahan hanya menginginkan suatu berita yaitu kapan Paman Gober meninggal dunia. Hal ini selalu ditunggu oleh warga bebek, ketika membaca koran pada pagi hari. Kisah yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, walaupun setting yang digambarkan adalah dunia unggas, namun secara jelas menggambarkan tokoh Soeharto. Cerpen ini sebenarnya adalah sebuah kritik, walaupun tidak terlalu liar dan vulgar karena penulis menggambarkannya dalam tokoh binatang. Tetapi, siapapun yang membacanya pasti seketika mengetahui sosok yang menjadi tujuan dalam cerpen Polemik Soeharto Guru Korupsi Vs Bapak Pembangunan. Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.